Gangguan Tidur
I. Tahap Awal
A. 1. Case Name : Pendekatan
2. Pre Condition : None
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Terapis menyambut klien
b. Terapis memperkenalkan diri
c. Terapis menanyakan kabar klien
d. Terapis membicarakan topik yang hangat atau hal umum lainnya
5. Post Condition : Menggali informasi klien
6. Actor Who Gets Benefits : Klien dan terapis
B. 1. Case Name : Menggali informasi
2. Pre Condition : Pendekatan
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menanyakan latar belakang keluarga klien
b. Menanyakan tujuan klien datang pada terapis
c. Menanyakan harapan klien
5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat
6. Actor Who Gets Benefit : Terapis
II. Tahap Kerja
A. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat
2. Pre Condition : Menggali informasi
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menentukan jenis gangguan
b. Disesuaian dengan jenis terapi
c. Disesuaian dengan klien
5. Post Condition : Pelaksanaan terapi
6. Actor Who Gets Benefits : Terapis
B. 1. Case Name : Pelaksanaan terapi
2. Pre Condition : Memilih terapi yang tepat
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Kontrol stimulus
b. Mengadaptasi waktu tidur dan bangun yang lebih konsisten
c. Relaksasi
d. Restrukturisasi rasional
5. Post Condition : Controlling
6. Actor Who gets Benefits : Klien
III. Tahap Akhir
A. 1. Case Name : Controlling
2. Pre Condition : Pelaksanaan terapi
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menanyakan klien mengenai kualitas tidur subjek setelah terapi
b. Menyocokan dengan hasil video yang telah dipasang terapis di ruang tidur
5. Post Condition : Evaluasi
6. Actor Who Gets Benefits : Terapis dan klien
B. 1. Case Name : Evaluasi
2. Pre Condition : Controlling
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Disesuaikan dengan tujuan awal klien
b. Disesuaikan dengan harapan klien
c. Klien diminta datang kembali menceritakan kualitas tidurnya
5. Post Condition : None
6. Actor Who Gets Benefits : Klien
Agorafobia
I. Tahap Awal
A. 1. Case Name : Pendekatan
2. Pre Condition : None
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Terapis menyambut klien
b. Terapis memperkenalkan diri
c. Terapis menanyakan kabar klien
d. Terapis membicarakan topik yang hangat atau hal umum lainnya
5. Post Condition : Menggali informasi klien
6. Actor Who Gets Benefits : Klien dan terapis
B. 1. Case Name : Menggali informasi
2. Pre Condition : Pendekatan
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menanyakan latar belakang keluarga klien
b. Menanyakan tujuan klien datang pada terapis
c. Menanyakan harapan klien
5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat
6. Actor Who Gets Benefit : Terapis
II. Tahap Kerja
A. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat
2. Pre Condition : Menggali informasi
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menentukan jenis gangguan
b. Disesuaian dengan jenis terapi
c. Disesuaian dengan klien
5. Post Condition : Pelaksanaan terapi
6. Actor Who Gets Benefits : Terapis
B. 1. Case Name : Pelaksanaan terapi
2. Pre Condition : Memilih terapi yang tepat
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Penentuan tempat pelaksanaan terapi
b. Penyesuaian waktu dengan tingkat fobia klien
c. Pemberian stimulus
5. Post Condition : Controlling
6. Actor Who gets Benefits : Klien
III. Tahap Akhir
A. 1. Case Name : Controlling
2. Pre Condition : Pelaksanaan terapi
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Pengawasan selama terapi berlangsung
b. Klien diminta mempraktekan apa yang diterimanya selama terapi
5. Post Condition : Evaluasi
6. Actor Who Gets Benefits : Terapis dan klien
B. 1. Case Name : Evaluasi
2. Pre Condition : Controlling
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Disesuaikan dengan tujuan awal klien
b. Disesuaikan dengan harapan klien
5. Post Condition : None
6. Actor Who Gets Benefits : Klien
Kecemasan Perpisahan
I. Tahap Awal
A. 1. Case Name : Pendekatan
2. Pre Condition : None
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Terapis menyambut klien
b. Terapis memperkenalkan diri
c. Terapis menanyakan kabar klien
d. Terapis membicarakan topik yang hangat atau hal umum lainnya
5. Post Condition : Menggali informasi klien
6. Actor Who Gets Benefits : Klien dan terapis
B. 1. Case Name : Menggali informasi
2. Pre Condition : Pendekatan
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menanyakan latar belakang keluarga klien
b. Menanyakan tujuan klien datang pada terapis
c. Menanyakan harapan klien
5. Post Condition : Memilih terapi yang tepat
6. Actor Who Gets Benefit : Terapis
II. Tahap Kerja
A. 1. Case Name : Memilih terapi yang tepat
2. Pre Condition : Menggali informasi
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Menentukan jenis gangguan
b. Disesuaian dengan jenis terapi
c. Disesuaian dengan klien
5. Post Condition : Pelaksanaan terapi
6. Actor Who Gets Benefits : Terapis
B. 1. Case Name : Pelaksanaan terapi
2. Pre Condition : Memilih terapi yang tepat
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Melakukan pendekatan terhadap keluarga klien
b. Memberikan solusi pada keluarga klien
c. Mengajak keluarga klien untuk berpartisipasi dalam proses terapi
d. Keluarga membujuk klien agar mau melakukan aktivitas sesuai intruksi terapis
e. Menyusun progam progesif bagi klien.
5. Post Condition : Controlling
6. Actor Who gets Benefits : Klien
III. Tahap Akhir
A. 1. Case Name : Controlling
2. Pre Condition : Pelaksanaan terapi
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Pengawasan terhadap keluarga klien
b. Pengawasan terhadap klien
c. Disesuaikan degan program yang telah dibuat
5. Post Condition : Evaluasi
6. Actor Who Gets Benefits : Terapis dan klien
B. 1. Case Name : Evaluasi
2. Pre Condition : Controlling
3. Actor Who Initiate : Terapis
4. Steps :
a. Disesuaikan dengan tujuan awal klien
b. Disesuaikan dengan harapan klien
5. Post Condition : None
6. Actor Who Gets Benefits : Klien
Jumat, 29 April 2011
Jumat, 25 Maret 2011
PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI DALAM DESIGN AWAL SISTEM INFORMASI (3)
Kecemasan Perpisahan
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Dalam tahap menggali informasi maka dapat diketahui subjek memiliki kecemasan perpisahan. Klien ini sering malas keluar rumah, tidak ingin aktivitas seorang diri, selalu ingin ditemani ibu dalam membeli pakaian dan memasuki aktivitas sosial serta rekreasional.
Setelah dianalisis terapi yang tepat untuk gangguan ini adalah terapi keluarga. Terapi keluarga disini berusaha untuk membantu anggota keluarga memahami pesan tersembunyi dari perilaku anak dan kemudian membantu keluarga untuk melakukan perubahan dalam hubungan mereka untuk memenuhi kebutuhan klien secara lebih baik.
D. Pelaksanaan Terapi
Penolakan klien untuk melakukan kegiatan selain diluar akibat gangguan kecemasan akan perpisahan dipandang sebagai hal yang perlu ditangani. Rencana terapi yang menyeluruh adalah melibatkan klien dan orang tua.
Pertama , terapis memberikan solusi bagi orang tua dan menginstruksikan orang tua untuk dapat mendorong klien dengan saran-saran yang telah diberikan terapis agar anak mau melakukan aktivitas diluar rumah.
Tetapi, jika klien kembali melakukan aktivitas selain di dalam rumah yang penuh dirasakan berat, maka terapis dapat menyusun program bagi klien untuk secara progresif meningkatkan aktivitasnya di luar rumah.
E. Controlling
Pengawasan dilakukan setelah terapis membantu orang tua klien dalam mengatasi masalahnya dengn klien. Pengawasan dilakukan terhadap keluarga klien dalam menghadapi klien dan membantu klien mengatsi masalahnya serta pengawasan juga dilakukan terhadap klien sendiri.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Dalam tahap menggali informasi maka dapat diketahui subjek memiliki kecemasan perpisahan. Klien ini sering malas keluar rumah, tidak ingin aktivitas seorang diri, selalu ingin ditemani ibu dalam membeli pakaian dan memasuki aktivitas sosial serta rekreasional.
Setelah dianalisis terapi yang tepat untuk gangguan ini adalah terapi keluarga. Terapi keluarga disini berusaha untuk membantu anggota keluarga memahami pesan tersembunyi dari perilaku anak dan kemudian membantu keluarga untuk melakukan perubahan dalam hubungan mereka untuk memenuhi kebutuhan klien secara lebih baik.
D. Pelaksanaan Terapi
Penolakan klien untuk melakukan kegiatan selain diluar akibat gangguan kecemasan akan perpisahan dipandang sebagai hal yang perlu ditangani. Rencana terapi yang menyeluruh adalah melibatkan klien dan orang tua.
Pertama , terapis memberikan solusi bagi orang tua dan menginstruksikan orang tua untuk dapat mendorong klien dengan saran-saran yang telah diberikan terapis agar anak mau melakukan aktivitas diluar rumah.
Tetapi, jika klien kembali melakukan aktivitas selain di dalam rumah yang penuh dirasakan berat, maka terapis dapat menyusun program bagi klien untuk secara progresif meningkatkan aktivitasnya di luar rumah.
E. Controlling
Pengawasan dilakukan setelah terapis membantu orang tua klien dalam mengatasi masalahnya dengn klien. Pengawasan dilakukan terhadap keluarga klien dalam menghadapi klien dan membantu klien mengatsi masalahnya serta pengawasan juga dilakukan terhadap klien sendiri.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI DALAM DESIGN AWAL SISTEM INFORMASI (2)
Agorafobia
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Setelah dilakukan wawancara secara lebih mendalam, klien ternyata memiliki fobia berada ditempat-tempat yang ramai. Klien merasa takut untuk pergi berbebelanja ditempat yang ramai. Metode yang akan dicoba oleh terapis pada kasus ini yaitu terapi flooding.
Terapi Flooding ini merupakan teknik pembanjiran terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa penguatan.
Metode yang disebut flooding adalah suatu bentuk dari terapi pemaparan dimana klien dihadapkan kepada stimuli pembangkit kecemasan tingkat tinggi baik melalui imajinasi ataupun situasi aktual.
D. Pelaksanaan Terapi
Klien agoraphobia akan dihadapka langsung pada tempat-tempat yang ramai. Dimulai dari tempat yang sangat klien hindari untuk dilewati. Kemungkinan besar klien akan merasa ketakutan, biarkan klien untuk bisa mengendalikan dirinya. Samapi batas waktu yang dirasa cukup.
Setelah dilakukan pembanjiran stimulus pada klien, yang dapat dipastikan klien merasa sangat takut, lalu terapis membuat klien rileks dan meyakinkan klien tidak terjadi hal-hal yang buruk.
Begitu seterusnya, hari selanjutnya pun demikian, subjek dihadapkan langsung dengan tempat yang ramai dengan didampingi terapis. Terapis membiarkan klien untuk mencoba mengendalikan dirinya ditempat yang ditakutinya itu.
E. Controlling
Pengawasan dilakukan setelah terapi berakhir, sehingga terapis dapat melihat kemampuan klien untuk mempraktikan apa yang diterimanya selama terapi.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
Sumber:
- Konseling dan Psikoterapi oleh Singgih Gunarsa, Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1996
- Psikologi Abnormal edisi kelima jilid 1 oleh Jeffrey S.Nevid, Spencer A.Rathus, dan Beverly Greene, Jakarta: Erlangga, 2005
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Setelah dilakukan wawancara secara lebih mendalam, klien ternyata memiliki fobia berada ditempat-tempat yang ramai. Klien merasa takut untuk pergi berbebelanja ditempat yang ramai. Metode yang akan dicoba oleh terapis pada kasus ini yaitu terapi flooding.
Terapi Flooding ini merupakan teknik pembanjiran terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa penguatan.
Metode yang disebut flooding adalah suatu bentuk dari terapi pemaparan dimana klien dihadapkan kepada stimuli pembangkit kecemasan tingkat tinggi baik melalui imajinasi ataupun situasi aktual.
D. Pelaksanaan Terapi
Klien agoraphobia akan dihadapka langsung pada tempat-tempat yang ramai. Dimulai dari tempat yang sangat klien hindari untuk dilewati. Kemungkinan besar klien akan merasa ketakutan, biarkan klien untuk bisa mengendalikan dirinya. Samapi batas waktu yang dirasa cukup.
Setelah dilakukan pembanjiran stimulus pada klien, yang dapat dipastikan klien merasa sangat takut, lalu terapis membuat klien rileks dan meyakinkan klien tidak terjadi hal-hal yang buruk.
Begitu seterusnya, hari selanjutnya pun demikian, subjek dihadapkan langsung dengan tempat yang ramai dengan didampingi terapis. Terapis membiarkan klien untuk mencoba mengendalikan dirinya ditempat yang ditakutinya itu.
E. Controlling
Pengawasan dilakukan setelah terapi berakhir, sehingga terapis dapat melihat kemampuan klien untuk mempraktikan apa yang diterimanya selama terapi.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
Sumber:
- Konseling dan Psikoterapi oleh Singgih Gunarsa, Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1996
- Psikologi Abnormal edisi kelima jilid 1 oleh Jeffrey S.Nevid, Spencer A.Rathus, dan Beverly Greene, Jakarta: Erlangga, 2005
PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI DALAM DESIGN AWAL SISTEM INFORMASI (1)
Gangguan Tidur
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Setelah dilakukan penggalian informasi ternyata klien mengalami gangguan tidur, lebih tepatnya gangguan berjalan sambil tidur. Metode yang dapat digunakan untuk menangani gangguan tidur adalah terapi kognitif perilaku.
Terapi kognitif perilaku menekankan pada jangka pendek dan berfokus pada penurunan langsung kondisi fisiologis yang timbul, memodifikasi kebiaaaan tidur yang maladaptive, dan mengubah pemikiran yang disfungsional. Terapis kognitif perilaku menggunakan kombinasi dari beberapa teknik, termasuk kontrol stimulus, pemantapan siklus tidur-bangun yang teratur, latihan relaksasi, dan restrukturisasi.
D. Pelaksanaan Terapi
Kontrol stimulus melibatkan perubahan stimulus lingkungan yang diasosiasikan dengan tidur, teknik kontrol stimulus bertujuan untuk memperkuat hubungan antaratemapat tidur dan tidur dengan membatasi aktivitas yang dihabiskan di tempat tidur untuk dapat tertidur.
Klien didorong untuk menciptakan siklus tidur-bangun yang teratur dengan mengadaptasi waktu tidur dan bangun yang lebih konsisten.
Teknik relaksasi seperti pendekatan relaksasi progresif, juga dapat dilatih sebelum waktu tidur untuk membantu menurunkan tingkat kesadaran fisiologis.
Restrukturisasi rasional melibatkan alternatif rasional untuk mengganti kekalahan dari pemikiran atau kepercayaan maladaptif yang bersifat self defeating.
Terapis memberika instruksi pada klien dalam pelaksanaan terapi kognitif perilaku, sebagai berikut:
1. Beristirahat di tempat tidur hanya jika mengantuk
2. Sebisa mungkin membatasi waktu di tempat tidur hanya untuk tidur.
3. Jika selama 10 menit atau lebih belum bisa tidur tinggalkan temapt tidur, lalu lakukan aktivitas yang bisa menenangkan.
4. Melakukan rutinitas yang teratur.
5. Hindari tidur siang.
6. Hindari merenung di tempat tidur.
7. Tenangkan pikiran.
8. Menciptakan jadwal latihan fisik pada siang hari.
9. Hindari minuman yang mengandung kafein.
10. Mengganti pemikiran self defeating.
E. Controlling
Hal selanjutnya terapis akan melakukan pengontrolan dengan melihat perkembangan klien setelah melaksanakan instruksi yang diberikan. Klien diminta menceritakan bagaimana kualitas tidurnya setelah melakukan instruksi tersebut. Terapis juga bisa melihat hasil rekaman video yang telah dipasang oleh terapis diruang perawatan klien.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
Sumber:
- Konseling dan Psikoterapi oleh Singgih Gunarsa, Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1996
- Psikologi Abnormal edisi kelima jilid 2 oleh Jeffrey S.Nevid, Spencer A.Rathus, dan Beverly Greene, Jakarta: Erlangga, 2005
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Setelah dilakukan penggalian informasi ternyata klien mengalami gangguan tidur, lebih tepatnya gangguan berjalan sambil tidur. Metode yang dapat digunakan untuk menangani gangguan tidur adalah terapi kognitif perilaku.
Terapi kognitif perilaku menekankan pada jangka pendek dan berfokus pada penurunan langsung kondisi fisiologis yang timbul, memodifikasi kebiaaaan tidur yang maladaptive, dan mengubah pemikiran yang disfungsional. Terapis kognitif perilaku menggunakan kombinasi dari beberapa teknik, termasuk kontrol stimulus, pemantapan siklus tidur-bangun yang teratur, latihan relaksasi, dan restrukturisasi.
D. Pelaksanaan Terapi
Kontrol stimulus melibatkan perubahan stimulus lingkungan yang diasosiasikan dengan tidur, teknik kontrol stimulus bertujuan untuk memperkuat hubungan antaratemapat tidur dan tidur dengan membatasi aktivitas yang dihabiskan di tempat tidur untuk dapat tertidur.
Klien didorong untuk menciptakan siklus tidur-bangun yang teratur dengan mengadaptasi waktu tidur dan bangun yang lebih konsisten.
Teknik relaksasi seperti pendekatan relaksasi progresif, juga dapat dilatih sebelum waktu tidur untuk membantu menurunkan tingkat kesadaran fisiologis.
Restrukturisasi rasional melibatkan alternatif rasional untuk mengganti kekalahan dari pemikiran atau kepercayaan maladaptif yang bersifat self defeating.
Terapis memberika instruksi pada klien dalam pelaksanaan terapi kognitif perilaku, sebagai berikut:
1. Beristirahat di tempat tidur hanya jika mengantuk
2. Sebisa mungkin membatasi waktu di tempat tidur hanya untuk tidur.
3. Jika selama 10 menit atau lebih belum bisa tidur tinggalkan temapt tidur, lalu lakukan aktivitas yang bisa menenangkan.
4. Melakukan rutinitas yang teratur.
5. Hindari tidur siang.
6. Hindari merenung di tempat tidur.
7. Tenangkan pikiran.
8. Menciptakan jadwal latihan fisik pada siang hari.
9. Hindari minuman yang mengandung kafein.
10. Mengganti pemikiran self defeating.
E. Controlling
Hal selanjutnya terapis akan melakukan pengontrolan dengan melihat perkembangan klien setelah melaksanakan instruksi yang diberikan. Klien diminta menceritakan bagaimana kualitas tidurnya setelah melakukan instruksi tersebut. Terapis juga bisa melihat hasil rekaman video yang telah dipasang oleh terapis diruang perawatan klien.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
Sumber:
- Konseling dan Psikoterapi oleh Singgih Gunarsa, Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1996
- Psikologi Abnormal edisi kelima jilid 2 oleh Jeffrey S.Nevid, Spencer A.Rathus, dan Beverly Greene, Jakarta: Erlangga, 2005
Kamis, 03 Maret 2011
PERANAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PROFESI PSIKOLOGI
Sebelum membahas mengenai peranan teknologi informasi dalam psikologi, mari kita bahas apa itu psikologi, profesi psikologi, dan teknologi informasi itu sendiri serta peranannya bagi seorang psikolog.
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku. Perilaku itu meliputi segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Profesi psikologi bertujuan untuk memberikan pelayanan psikologi bagi manusia yang membutuhkannya.
Sementara itu teknologi informasi memiliki definisi sebagai berikut, menurut Haag dan Keen (1996), teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Menurut Martin (1999), teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang akan digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirim/menyebarkan informasi. Sementara Williams dan Sawyer (2003), mengungkapkan bahwa teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi kecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.
Saat ini teknologi informasi telah merambah ke segala bidang baik itu pendidikan, ekonomi, kedokteran, arsitektur, dan lain sebagainya. Hal ini tidak lain untuk memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk dapat menjalankan tugas pekerjaannya. Banyak macam serta jenis dari teknologi informasi tersebut yang terdiri dari software dan hardware yang dapat memberikan manfaat sesuai dengan fungsinya bagi para pekerja yang menggunakan teknologi informasi.
Sebagai contoh sederhana, bila seorang psikolog ingin mencatat hasil observasi dapat menggunakan Microsoft word. Dan salah satu perkembangan teknologi terbaru yang berkaitan dengan psikologi adalah pembaca sidik jari, dari sini seorang psikolog dapat dengan mudah mengetahui minat kliennya. Tentunya pembaca sidik jari ini dapat lebih memberi kemudahan dan sebagai pendukung tambahan bagi psikolog dalam mengarahkan minat kliennya selain dengan pemeriksaan psikologis menggunakan tes psikologis yang ada.
Teknologi informasi telah berkembang pesat dari tahun ketahun dengan penemuan-penemuan terbaru, yang memberikan kemudahan-kemudahan bagi penggunanya tidak terkecuali dibidang psikologi. Psikolog dapat mengetahui minat seseorang melalui pembaca sidik jari dengan cara scan ibu jari atau bisa juga disebut dengan fingerprint scanner. Metoda fingerprint disebut juga teknologi dermatoglyphics.
Perkembangan ilmu dermatoglyhic dan dactiloscopy ilmu penelitian yang berkaitan dengan struktur sidik jari semakin memberikan gambaran adanya hubungan struktur biologis dalam hal ini sidik jari dengan sistem kerja otak. Pola-pola guratan yang ada pada sidik jari ternyata diketahui telah terbentuk ketika janin dalam kandungan usia 13-24 minggu, yang sekaligus berhubungan dengan perkembangan pembentukan otak.
Konsep fingerprint diajarkan di Brain Child Learning yang kini sudah menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu lembaga pelatihan pengembangan bakat yang ada di Jakarta adalah kantor Brain Child Learning di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Leonardus Eko W direktur eksekutif Brain Child Learning menjelaskan metode fingerprint atau sidik jari ini, dipercaya bisa mengetahui bakat anak sejak dini. Metode ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan akurasi 95%. Di sejumlah negara maju, metode ini bisa dipergunakan untuk panduan bakat mempersiapkan bibit unggul di bidang sains, seni, dan olah raga.
Menurut Reksa boeana (2010) semua fingerprint test menyajikan informasi tentang potensi kecerdasan yang disampaikan dalam bentuk ranking kecerdasan. Ranking tertinggi menunjukkan bakat individu. Semua fingerprint test menyajikan data Learning Type yang berisi informasi tentang optimalisasi belajar individu. Ada individu yang lebih baik belajar dengan cara visual, auditory atau sensory/kinestetik. Petunjuk ini sangat berguna bagi orang tua dalam membimbing anak belajar.
Tentu peranan teknologi informasi dengan software dan hardwarenya mampu memberikan manfaat yang penting bagi profesi psikologi. Salah satunya adalah fingerprint scanner, sebuah hardware yang mampu memberikan kemudahan dalam mengetahui minat seorang anak.
Sumber:
dahsyatnyasidikjari.com
mediaindonesia.com
pustaka.unpad.ac.id
reksaboeana.blogspot.com
teknik-informatika.com
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku. Perilaku itu meliputi segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Profesi psikologi bertujuan untuk memberikan pelayanan psikologi bagi manusia yang membutuhkannya.
Sementara itu teknologi informasi memiliki definisi sebagai berikut, menurut Haag dan Keen (1996), teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Menurut Martin (1999), teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang akan digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirim/menyebarkan informasi. Sementara Williams dan Sawyer (2003), mengungkapkan bahwa teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi kecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.
Saat ini teknologi informasi telah merambah ke segala bidang baik itu pendidikan, ekonomi, kedokteran, arsitektur, dan lain sebagainya. Hal ini tidak lain untuk memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk dapat menjalankan tugas pekerjaannya. Banyak macam serta jenis dari teknologi informasi tersebut yang terdiri dari software dan hardware yang dapat memberikan manfaat sesuai dengan fungsinya bagi para pekerja yang menggunakan teknologi informasi.
Sebagai contoh sederhana, bila seorang psikolog ingin mencatat hasil observasi dapat menggunakan Microsoft word. Dan salah satu perkembangan teknologi terbaru yang berkaitan dengan psikologi adalah pembaca sidik jari, dari sini seorang psikolog dapat dengan mudah mengetahui minat kliennya. Tentunya pembaca sidik jari ini dapat lebih memberi kemudahan dan sebagai pendukung tambahan bagi psikolog dalam mengarahkan minat kliennya selain dengan pemeriksaan psikologis menggunakan tes psikologis yang ada.
Teknologi informasi telah berkembang pesat dari tahun ketahun dengan penemuan-penemuan terbaru, yang memberikan kemudahan-kemudahan bagi penggunanya tidak terkecuali dibidang psikologi. Psikolog dapat mengetahui minat seseorang melalui pembaca sidik jari dengan cara scan ibu jari atau bisa juga disebut dengan fingerprint scanner. Metoda fingerprint disebut juga teknologi dermatoglyphics.
Perkembangan ilmu dermatoglyhic dan dactiloscopy ilmu penelitian yang berkaitan dengan struktur sidik jari semakin memberikan gambaran adanya hubungan struktur biologis dalam hal ini sidik jari dengan sistem kerja otak. Pola-pola guratan yang ada pada sidik jari ternyata diketahui telah terbentuk ketika janin dalam kandungan usia 13-24 minggu, yang sekaligus berhubungan dengan perkembangan pembentukan otak.
Konsep fingerprint diajarkan di Brain Child Learning yang kini sudah menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu lembaga pelatihan pengembangan bakat yang ada di Jakarta adalah kantor Brain Child Learning di Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Leonardus Eko W direktur eksekutif Brain Child Learning menjelaskan metode fingerprint atau sidik jari ini, dipercaya bisa mengetahui bakat anak sejak dini. Metode ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan akurasi 95%. Di sejumlah negara maju, metode ini bisa dipergunakan untuk panduan bakat mempersiapkan bibit unggul di bidang sains, seni, dan olah raga.
Menurut Reksa boeana (2010) semua fingerprint test menyajikan informasi tentang potensi kecerdasan yang disampaikan dalam bentuk ranking kecerdasan. Ranking tertinggi menunjukkan bakat individu. Semua fingerprint test menyajikan data Learning Type yang berisi informasi tentang optimalisasi belajar individu. Ada individu yang lebih baik belajar dengan cara visual, auditory atau sensory/kinestetik. Petunjuk ini sangat berguna bagi orang tua dalam membimbing anak belajar.
Tentu peranan teknologi informasi dengan software dan hardwarenya mampu memberikan manfaat yang penting bagi profesi psikologi. Salah satunya adalah fingerprint scanner, sebuah hardware yang mampu memberikan kemudahan dalam mengetahui minat seorang anak.
Sumber:
dahsyatnyasidikjari.com
mediaindonesia.com
pustaka.unpad.ac.id
reksaboeana.blogspot.com
teknik-informatika.com
Langganan:
Postingan (Atom)