Agorafobia
A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.
B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.
C. Memilih Terapi yang Tepat
Setelah dilakukan wawancara secara lebih mendalam, klien ternyata memiliki fobia berada ditempat-tempat yang ramai. Klien merasa takut untuk pergi berbebelanja ditempat yang ramai. Metode yang akan dicoba oleh terapis pada kasus ini yaitu terapi flooding.
Terapi Flooding ini merupakan teknik pembanjiran terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa penguatan.
Metode yang disebut flooding adalah suatu bentuk dari terapi pemaparan dimana klien dihadapkan kepada stimuli pembangkit kecemasan tingkat tinggi baik melalui imajinasi ataupun situasi aktual.
D. Pelaksanaan Terapi
Klien agoraphobia akan dihadapka langsung pada tempat-tempat yang ramai. Dimulai dari tempat yang sangat klien hindari untuk dilewati. Kemungkinan besar klien akan merasa ketakutan, biarkan klien untuk bisa mengendalikan dirinya. Samapi batas waktu yang dirasa cukup.
Setelah dilakukan pembanjiran stimulus pada klien, yang dapat dipastikan klien merasa sangat takut, lalu terapis membuat klien rileks dan meyakinkan klien tidak terjadi hal-hal yang buruk.
Begitu seterusnya, hari selanjutnya pun demikian, subjek dihadapkan langsung dengan tempat yang ramai dengan didampingi terapis. Terapis membiarkan klien untuk mencoba mengendalikan dirinya ditempat yang ditakutinya itu.
E. Controlling
Pengawasan dilakukan setelah terapi berakhir, sehingga terapis dapat melihat kemampuan klien untuk mempraktikan apa yang diterimanya selama terapi.
F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.
Sumber:
- Konseling dan Psikoterapi oleh Singgih Gunarsa, Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1996
- Psikologi Abnormal edisi kelima jilid 1 oleh Jeffrey S.Nevid, Spencer A.Rathus, dan Beverly Greene, Jakarta: Erlangga, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar