Jumat, 25 Maret 2011

PEMETAAN BISNIS PROSES PSIKOTERAPI DALAM DESIGN AWAL SISTEM INFORMASI (3)

Kecemasan Perpisahan

A. Pendekatan
Terapis memulai dengan memperkenalkan diri dan membuat klien menjadi nyaman saat berada di dekat terapis, nyaman dalam arti hubungan professional antara terapis dan kliennya. Sambutan kedatangan juga memegang peranan dalam jalannya terapi , lalu dilanjutkan dengan berbicara topik yang netral seperti keadaan cuaca atau hobi klien.

B. Menggali Informasi
Jika dalam pembicaraan yang netral klien sudah merasa bersahabat kemudian dapat terapis mulai dengan memasuki pembicaraan atau mengajak klien mulai dalam permulaan terapi, yaitu dengan menjembatani antara topik netral pada masalah yang akan dibicarakan. Klien dapat diminta untuk mengulangi pernyataannya jika terapis mengagap itu penting atau terapis dapat menggunakan alat perekam seperti recorder untuk memberi kemudahan bagi terapis sendiri.
Setelah diketahui masalah yang dihadapi klien, terapis mencoba menggali lebih dalam tentang hal yang dialami oleh klien agar tahu sejauh mana masalah yang dihadapi oleh klien.

C. Memilih Terapi yang Tepat
Dalam tahap menggali informasi maka dapat diketahui subjek memiliki kecemasan perpisahan. Klien ini sering malas keluar rumah, tidak ingin aktivitas seorang diri, selalu ingin ditemani ibu dalam membeli pakaian dan memasuki aktivitas sosial serta rekreasional.
Setelah dianalisis terapi yang tepat untuk gangguan ini adalah terapi keluarga. Terapi keluarga disini berusaha untuk membantu anggota keluarga memahami pesan tersembunyi dari perilaku anak dan kemudian membantu keluarga untuk melakukan perubahan dalam hubungan mereka untuk memenuhi kebutuhan klien secara lebih baik.

D. Pelaksanaan Terapi
Penolakan klien untuk melakukan kegiatan selain diluar akibat gangguan kecemasan akan perpisahan dipandang sebagai hal yang perlu ditangani. Rencana terapi yang menyeluruh adalah melibatkan klien dan orang tua.
Pertama , terapis memberikan solusi bagi orang tua dan menginstruksikan orang tua untuk dapat mendorong klien dengan saran-saran yang telah diberikan terapis agar anak mau melakukan aktivitas diluar rumah.
Tetapi, jika klien kembali melakukan aktivitas selain di dalam rumah yang penuh dirasakan berat, maka terapis dapat menyusun program bagi klien untuk secara progresif meningkatkan aktivitasnya di luar rumah.

E. Controlling
Pengawasan dilakukan setelah terapis membantu orang tua klien dalam mengatasi masalahnya dengn klien. Pengawasan dilakukan terhadap keluarga klien dalam menghadapi klien dan membantu klien mengatsi masalahnya serta pengawasan juga dilakukan terhadap klien sendiri.

F. Evaluasi
Terapi telah mencapai tahap akhir evaluasi. Disini terapis mencoba mengevalusi perkembangan yang telah dicapai individu, hal ini disesuaikan dengan tujuan awal klien datang pada terapis. Apabila tujuan telah tercapai, klien tidak melanjutkan terapi lagi, atau bila terapis tidak dapat lagi menolong kien maka terapis akan merujuk pada terapis lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar